Semua info yang perlu kamu tau tentang CM

Archive for 20 April 2011

Lagi-lagi Berbagi… Apaan Sih!???

Temen-temen pasti udah pada tahu dunk tema prapaskah 2011 ini. Bahkan mungkin uda bosen setelah hampir sebulan tema PD dimana-mana berbagi melulu… Tapi temen-temen, sepertinya berbagi gak harus pas Paskah aja kan… Yuk kita lihat makna berbagi menurut sharing salah satu temen kita…


Tema prapaskah kali ini memang sederhana namun memiliki makna yang sangat mendalam. Keuskupan Agung Jakarta mengajak kita untuk “Mari Berbagi” sebagai renungan dalam retret 40 hari tahun ini. Pertama membaca tema ini yang terlintas dalam benak saya adalah, “Oh.. Oke, ntar kan pantang n puasa, jadi duit jajannya masukin aje ke kotak APP.” Saya merasa ini ajakan yang standar dan mudah. – “Hmm… Dosa pertama manusia” . Lalu setiap harinya saya menyisihkan uang untuk mengisi kotak APP yang kecil itu. Apalagi setelah menghadiri beberapa Persekutuan Doa, saya semakin mantap untuk berbagi. Alhasil tidak sampai 1 bulan, kotak APP saya sudah penuh.

“Hmm.. Berarti sekarang cukup berbaginya.. Hehe”, pikirku dengan bangganya. – Iblis pun tersenyum.

Namun dalam sebuah perjalanan wisata saya disadarkan Tuhan – mungkin lebih tepatnya di-“Getok”. Waktu itu, saya sedang dalam perjalanan dari Jogjakarta kembali ke Jakarta. Saat itu saya sedang dalam perasaan penuh sukacita. Saya merasa seperti baru saja menemukan “surga” dalam hidup.

Ketika itu saya baru saja “berkelana” bersama seorang teman mengelilingi kota Jogjakarta selama 5 hari 4 malam. Saya senang sekali dengan keramahan penduduknya, ketertiban dan kebersihan jalanannya, budayanya, dan terlebih “KEMURAHAN”-nya. Yang saya maksudkan dengan “KEMURAHAN” disini adalah harga. – Hehehe… Singkat cerita, saya membawa uang Rp 500.000,- dan sudah cukup untuk :  transport, hotel, makan kenyang 4x sehari, sewa Motor, tiket masuk objek wisata, dan oleh-oleh – masih sisa di kantong +- Rp 100.000,- ketika pulang. Wow..  Antara takjub dan tidak percaya, saya pulang dengan kepenuhan sukacita.

Jadi, dalam perjalanan pulang saya bertekad berbagi dengan : pengemis, pengamen, anak-anak, ibu-ibu, bapak, semua yang minta-minta di kereta. Perjalanan kereta api dari Jogjakarta menuju Jakarta dengan kereta ekonomi memakan waktu 9 jam. Dan ada banyak stasiun kecil sebelum akhirnya benar-benar berangkat ke Jakarta. Dalam perjalanan transit antar stasiun itu saya menjumpai banyak sekali pengamen dan pengemis dari anak-anak hingga tua rentah, yang buta, bungkuk, dan adapula anak kecil yang menyapu lantai gerbong. Setiap ada yang meminta saya bagikan mereka uang dengan  sukacita dan sukarela. Dan ternyata benar bahwa sukacita yang dibagikan akan terasa berlipat ganda. Namun apakah saya sudah benar-benar berbagi?

Simpan dulu jawaban anda,dan mari kita ikuti lanjutan ceritanya..

Waktu itu hari sudah malam, dan kereta berhenti di Stasiun Kebumen untuk mengangkut penumpang terakhir sebelum berangkat ke Jakarta. Semua tempat duduk telah terisi, namun para penumpang dengan tiket tanpa tempat duduk baru berdatangan. Saya duduk di bangku dengan teman saya berhadapan dengan seorang ibu dan seorang bapak yang nampak lelah, dan ia tertidur sepanjang perjalanan. Kemudian datanglah seorang ibu dengan 1 anak dalam gendongannya dan 1 anak balita yang berdiri di dekat saya.

Anda bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya?

Ya.. Nurani saya mengatakan untuk memberikan tempat duduk itu bagi mereka, namun logika saya berkata lain,”Perjalanan masih panjang, masih 7 jam. Masa Gue harus berdiri biar  mereka bisa duduk. Kan Gue udah bayar, dan ini hak Gue. Tapi gak tega juga ngeliatnya.” Saya coba melihat teman saya siapa tahu dia juga memikirkan hal yang sama, namun ia sedang asyik mendengarkan musik dan sepertinya tidak memperhatikan. Ketika batin saya masih bergejolak dengan pikiran saya, tiba-tiba anak ibu tadi yang sedang ia gendong menangis. Dan bapak yang tertidur di depan saya terbangun dari tidurnya. Begitu terbangun, dilihatnya ibu itu dengan kedua anaknya. Dengan spontan ia menggeser tempat duduknya dan mempersilakan Ibu itu untuk duduk tanpa pikir panjang.

Sret.. Jeb.. Deg..

Entah darimana anak panah itu asalnya, namun hati saya seperti dipanah, dan langsung mengena ke dasar nurani. Sakitnya seperti teriris-iris. Segala  yang tindakan “berbagi uang” yang saya lakukan sebelumnya seakan sia-sia belaka dibandingkan dengan bapak di depan saya yang berbagi tempat duduknya dengan tulus dan spontan. Kemudian saya pun tergerak untuk mempersilakan anaknya yang masih balita untuk duduk disamping saya, dan perjalanan selanjutnya menjadi sebuah renungan yang panjang.

Sepanjang perjalanan saya terus berpikir sambil memperhatikan wajah orang-orang disekeliling saya. Saya merasa malu karena harus berpikir panjang untuk menolong orang lain ketika saya kesusahan, sedangkan bapak didepan saya dengan mudahnya membagikan tempatnya bagi orang lain di tengah kesusahan yang ia alami. Kemudian saya pun ingat dengan sebuah ayat kitab suci yang berbunyi:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara- Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”- Mat 25 : 40

Saya terdiam, tidak tahu harus berkata apa, atau berpikir apa. Saya perhatikan dengan seksama orang-orang yang berada di gerbong kereta. Pedagang yang mondar-mandir demi mencari sesuap nasi. Sekelompok nenek-nenek dengan seorang cucunya yang tertidur di pangkuannya. Melalui orang-orang sederhana ini Yesus seolah-olah hendak berkata bahwa ia ada di dalam diri mereka. Terlebih dalam diri bapak yang ada di depanku. Saya kecewa telah ragu-ragu untuk berbagi dengan ibu itu.

Namun, saya akhirnya mendapat penghiburan dari seorang bidadari cantik yang bersandar di bahuku. Ia adalah gadis kecil yang merupakan anak ibu itu. Ia terdiam saja, tidak bicara, mungkin karena kelelahan. Sorot mata-nya lugu dan polos. Ia duduk diam meskipun kondisi kereta sempit, sumpek, dan pengap.  Apalagi ditambah dengan seorang pemuda yang dengan cueknya merokok diantara kumpulan nenek-nenek dan anak-anak. Namun anak itu tidak merengek maupun mengeluh sedikit pun. Sungguh saya merasakan sukacita yang tidak dapat dijelaskan. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi hati saya merasakan kedamaian. Perjalanan saya selanjutnya berubah menyenangkan dengan ditemani seorang ibu yang baik dan bidadari kecil yang cantik.

Saya bersyukur masih boleh diberikan kesempatan untuk berbagi. Dan terlebih lagi saya bersyukur karena Tuhan telah membukakan mata saya, sehingga saya bisa melihat indahnya makna berbagi. Maka teman-teman, untuk itulah saya berbagi pengalaman saya tentang bagaimana saya menemukan kedamaian dan sukacita dengan berbagi pada sesama. Namun, kita tidaklah sempurna seperti Yesus yang rela membagikan nyawanya bagi kita semua. Ia tidak ragu-ragu ketika melihat orang lain butuh pertolongan. Ia rela memberikan seluruh hidupnya bagi kita untuk menebus semua keterikatan kita terhadap dosa. (fyro)

Mari teman-teman menyambut paskah ini kita memberikan diri kita sepenuhnya untuk meneladani sikap Yesus yang telah mati bagi kita di kayu salib bagi kita..

 

“Selamat Merayakan Paskah”

Campus Ministry Team

Holy Trinity Bless U Guys…

Awan Tag