Semua info yang perlu kamu tau tentang CM

Romo Moderator

PROFIL

Nama : Rm. Agustinus Purwantoro, SJ
Nickname : Rm. Ipong
TTL : Semarang, 16 Agustus 1972
Hobi : Berenang, membaca buku, fotografi, traveling, wisata kuliner, naik gunung, memasak

Kenapa dipanggil Ipong?

Kembali ke masa kecil, pasti sulit bagi anak yang berumur 3 tahun ke bawah untuk melafalkan r dengan jelas, alias cadel.    Maka, ‘Pur’ pun biasanya akan dibunyikan oleh teman-teman kecil Rm. Purwantoro sebagai Pung atau Pong. Jadilah dia dipanggil sebagai Ipong. Menurut Rm. Ipong, banyak orang Jawa yang bernama Purwanto, Purwantoro, Purnomo, biasa dipanggil Pung atau Ipong juga.

Sejak kapan dan mengapa ingin menjadi romo?

Menurut Rm. Ipong, yang pasti panggilan itu bukan seperti orang yang sedang mimpi, lalu seakan-akan didatangi malaikat cantik dan memintanya jadi imam. Rm. Ipong tidak ingat betul kapan keinginan itu mulai muncul; barangkali ketika masih kecil. Keinginan untuk menjadi Romo makin mendapat percikannya ketika melihat figur Rm. Y. B. Mangunwijaya, Pr. Baginya, Rm. Mangun memiliki keunikan dan kelebihan yang luar biasa. Rm. Mangun adalah seorang dengan kemampuan, bakat, dan kualifikasi di banyak hal: sebagai seorang arsitek (beberapa tempat yang jadi buah karyanya: kompleks peziarahan Sendangsono, gereja Cilincing, pertapaan trapis Gedono), novelis (Romo Rahadi, Durga Umayi), ahli teologi (bukunya Gereja Diaspora), pejuang kemanusiaan  yang sangat peduli akan nasib kaum miskin (yang tinggal di bekas waduk Kedung Ombo dan yang memperjuangkan agar bantaran Kali Code Yogyakarta tidak digusur tapi diubah jadi pemukiman yang indah khas Ngayogyakartahadiningrat), dan juga kepeduliaan beliau terhadap pendidikan dasar di Indonesia.

Di dalam prakteknya, Rm. Mangun tidak hanya melakukan hal-hal konvensional yang umumnya dilakukan seperti Romo kebanyakan, memimpin misa, retret, atau doa lingkungan, melainkan justru melakukan hal-hal lainnya yang lebih menarik dan mampu berguna untuk gereja sekarang dan di masa depan.

Romo Ipong mengawali studinya sebagai imam setelah lulus dari SMA Negeri 3 Semarang, kemudian melanjutkan ke Seminari Menengah Mertoyudan (sebelah selatan Magelang, Jawa Tengah) dan masuk Kelas Persiapan Atas (KPA) selama 1 tahun. Setelah itu, Romo masuk ke novisiat (tahap awal pendidikan sebagai religius) anggota Serikat Jesus (SJ).

Bagi Romo Ipong, menjadi frater (tahap sebelum ditahbiskan sebagai imam, romo) SJ adalah saat-saat untuk terus menimbang-nimbang dan memperkuat panggilan. Di sini, Romo menjadi lebih serius. Masuk ke gerbang pastoral, bisa diibaratkan seperti ketika kita hendak masuk ke jenjang perkawinan, ada perasaan deg-degan di dalamnya. Bagaimana kelak atau kalau nanti di masa depan, apakah akan kuat dan mampu bertahan untuk masuk terlibat dengan gaya hidup yang saya pilih.

Semua itu membutuhkan proses belajar di dalam pelaksanaanya. Bahkan, hingga saat ini Romo masih belajar untuk dapat melaluinya dan bagaimana membangun relasi di dalam keluarganya yang baru. Sama halnya dengan ketika kita akan masuk ke jenjang perkawinan, kita memerlukan pelajaran di awalnya, meskipun kita terlahir dari sebuah keluarga, namun tetap saja harus belajar bagaimana kelak membentuk dan membangun sebuah keluarga. Semua itu adalah proses. Menjadi bagian dari keluarga SJ juga merupakan kombinasi antara bangga dan merasa bahwa pilihan seperti ini bisa mengimplikasikan tanggungjawab, dimana suka/tidak suka, sebagai frater, imam, maupun religius lainnya akan menjadi “panutan/sorotan” masyarakat, sehingga harus ada rasa tanggungjawab yang dimiliki juga.

Romo kelahiran tahun 1972 ini ternyata sudah cukup banyak berpengalaman tinggal di luar negeri lho. Tugas-tugas itu menjadi bagian dari konsekuensi pilihannya sebagai anggota SJ. Beberapa penugasan yang pernah dijalaninya: Mikronesia, Myanmar, Boston, dan Jamaica. Tentu saja banyak rintangan dan halangan yang harus dilalui Romo, namun Romo tetap semangat menjalaninya.

Menurut Romo, di dalam SJ, ada semangat yang ditawarkan dan diajarkan. Ada prinsip yang disebut disponibilitas, yaitu di manapun kita berada, harus belajar lagi menyesusaikan diri dengan benar dan bijaksana dengan kondisi setempat, berlatih komunikasi dan sharing dengan penduduk sekitar juga sangat membantu. When in Rome, do as the Romans do. Yang penting kita menikmati hidup dan tugas yang diberikan dan mau terus belajar.

Awal penugasannya, frater (kala itu) Ipong ditugaskan di Chuuk, Mikronesia, sebuah pulau kecil indah yang berada di Samudra Atlantik. Di tempat yang dikelilingi laut, selain menjalani tugas utamanya sebagai guru matematika, dia menikmatinya sebagai kesempatan untuk lebih banyak snorkling, fishing, dan makan ikan laut, fresh from the ocean. Bahkan Romo yang tadinya tidak suka dengan sashimi, kini menjadi salah satu makanan favoritnya.

Ada pepatah dalam bahasa latin yang juga menjadi pedoman hidupnya, Hic et Nunc, Here and Now, di sini kita berada, di sini pula kita hidup dan belajar.

Manusia memang akan belajar terus selama hidupnya, namun tidak boleh lepas dari berdoa juga. Setiap orang dari berbagai level selalu membutuhkan Tuhan. Di manapun dan dalam level apapun, kita pasti akan menemukan iman apa yang cocok untuk kita. Pada dasarnya, wujud, bentuk dan bahasa yang digunakan masing-masing itu berbeda satu sama lain, namun intinya sama. Hal ini menjadi tantangan bagi kaum muda untuk terlibat di dalam menjalin hubungannya dengan Tuhan.

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk berdoa, karena doa adalah media komunikasi dengan Tuhan. Doa harus dijadikan trend di dalam hidup kita. Hidup rohani, sudah menjadi part of your life. Hidup rohani bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, misal melakukan examination of conscience, minimal kita mampu untuk menyadari kehadiran dan di mana Allah bekerja bagi hidup kita hari itu.

Pesan Romo Ipong bagi para mahasiswa, dunia perkuliahan adalah masa peralihan dari anak-anak, tidak hanya ke dewasa, tetapi juga dilepas ke dunia. Tujuan utama memang adalah akademik, tetapi menjadi mahasiswa juga akan mengalami kematangan pribadi, karakter yang tangguh dan berkualitas. Kuliah mendewasakan kita dengan level yang cukup cepat. Moment-moment itulah yang akan mewarnai hidup kita di masa mendatang pula. Menjadi mahasiswa juga haruslah sudah memikirkan apa tujuan hidup kita. Dengan tujuan hidup yang jelas, kita akan menjadi lebih mudah untuk mencari cara pencapaiannya. Memberikan kontribusi (self-giving) untuk orang lain juga tidak ada salahnya. Do your best, selalu berusaha untuk yang terbaik. Berkah Dalem.

Iklan

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: